Rabu, 22 Januari 2014

Cerita Pendek Indonesia 2


 
PELARIAN KETUPAT DI HARI LEBARAN



“ Door..doorr...pletaak..pletaak!” Suara petasan terdengar bergemuruh di seluruh penjuru kota.
            Warna langit malam itu terlihat sama persis seperti keadaan kota tahun lalu, lampu-lampu kota yang gemerlap tertunduk malu terkalahkan oleh keramaian kembang api dan roket-roket api yang terkembang di langit dengan mempesona. Gemebyar bunga-bunga api asyik berjoget dengan irama tabuhan bedug yang beralunan suara takbir, sementara itu obor-obor sengaja begadang untuk menerangi jalan-jalan yang kesepian. Anak-anak tertawa gembira bermain mercon cabai dan sesekali iseng melemparkannya kepada rumah tetangga mereka yang galak. Malam itu sungguh malam yang indah dengan seribu gemerlap keceriaan di setiap wajah orang-orang. Jangkrik pun tak menderik, ia memilih berjamaah mendengar alunan musik terindah hadiah dari Allah. Kumbang yang biasa mendengkur di sela-sela pohon juga ikut-ikutan libur, ia tak mau ketinggalan menunjukkan rasa syukur atas madu dari bunga-bunga di taman rumah sebelah.
            “ Hiks...hiks..!” Terdengar suara tangisan menderu dari sebuah dapur di rumah elit metropolitan.
            Sungguh aneh sekali mengapa di tengah kesukacitaan yang begitu membuncah di dada setiap orang masih ada suara tangisan terdengar. Apakah suara itu tanda kebahagian atau rasa syukur kepada sang Pencipta? Ah.., tetapi mengapa tiada suara takbir yang bergemuruh di hatinya? Apakah yang sedang ia risaukan saat ini? Siapakah dia yang masih saja menangis?
            Suara tangisan terdengar semakin menderu, siapa pun berani bertaruh orang-orang akan merasa pilu kelu mendengar sesenggukan itu. Untung saja, malam ini penuh alunan takbir dan gemebyar kembang apai di seantero kota sehingga suara tangisannya itu tak akan sampai di telinga orang-orang. Suara tangisan itu semakin sendu, sesosok buntalan perlahan bangun dari bawah celemek dapur. Aromanya saat ia bergerak menggoda perut-perut jangkrik di depan rumah, namun sayang jangkrik itu baru saja khusyuk menikmati alunan takbir. Sosok buntalan itu hampir membuka separuh celemek yang menutupi dirinya. Hijau dan bertekstur teratur nampaknya. Bentuk tubuhnya gempal berisi dan kotak, kemudian dari atas kepalanya terjuntai daun yang terurai sampai ke meja. Kini ia benar-benar telah bangun dari tempat ia bersembunyi sedari tadi. Celemek merah jambu kesukaan anak pemilik rumah sudah basah sejak sepuluh menit yang lalu saat ia merasa lelah menampung semua air mata dari ketupat lebaran yang terus-terusan merembes ke dalam pori-pori tubuhnya. Sebenarnya sudah dari satu jam yang lalu ia ingin pergi dari atas piring tempat ketupat itu bersandar, namun ia merasa kasihan dan tega meninggalkannya menangis sendirian. Ia akhirnya merelakan tubuhnya basah oleh tumpahan linangan air mata ketupat malang.
            “ Hei ketupat, kenapa dari tadi kau menangis saja? Apakah kau tidak takut dimarahi  seisi rumah karena membuyarkan kekhusyukan mereka malam ini?” Sapa salah satu sendok yang tergeletak di atas sebuah piring keramik putih.
            “ Apakah hingga saat ini mereka masih khusyuk?” Tanya ketupat lebaran kepada sendok.
            “ Ya, masih. Garpu di sebelahku masih terdiam memandang langit-langit rumah.” Jawab sendok.
            Tangisan ketupat lebaran pun semakin meledak tak tertahankan, sesisi rumah sempat menoleh lalu kembali khusyuk dalam lantunan takbir. Sendok pun mendadak heran dengan ledakan tangisan ketupat. Ia mengatur kata-katanya kembali untuk menenangkan ketupat.
            “ Hei tampan, kenapa kau menangis semakin keras? Apa aku salah berbicara, kalau begitu tolong maafkan aku.” Sendok mencoba merayu ketupat dari lantunan tangisan yang begitu memilukan.
            “Huaa....huaaa...!” Tangisan ketupat semakin dan semakin mengeras.
            “ Hei, tolong diamlah!” Sahut sendok galak.
            Akhirnya ketupat pun menghentikan deruan tangisannya yang begitu memilukan. Ia menyeka air mata yang masih menempel di penutup tubuhnya agar ia tetap kering hingga esok pagi.
            “ Hiks..hiks.., maafkan aku sendok, tapi ini begitu memilukanku.” Suara katupat sesenggukan sabil sesekali mengeluarkan ingusnya dari balik anyaman daun janur yang menempel di tubuhnya.
            “ Hei Bung, coba ceritakanlah kepadaku. Aku mungkin bisa membantumu!” Sendok berkata sambil menepuk punggung ketupat.
            Ketupat pun menceritakan kerisauannya kepada sendok perak di sebelahnya. Ia mengungkapkan banyak hal mengenai kehampaan yang ia rasakan selama tiga tahun lebaran terakhir. Ketupat merasa dirinya sudah tak berharga lagi sebagai makanan, ia tak lagi sama seperti citra teman-temannya di luaran sana yang tetap bergembira menjadi makanan primadona pengisi meja makan keluarga. Sudah tiga tahun belakangan ini istri pemilik rumah melakukan diet karbohidrat untuk melangsingkan tubuhnya yang memang sudah langsing. Suami dari pemilik rumah pun saat lebaran jarang pulang ke rumah saat lebaran, sekalinya pulang ke rumah maka ia langsung mengajak istri dan anaknya pergi berlibur ke luar kota selama beberapa hari. Ketupat yang sedari sore sebelum gema takbir dikumandangkan  telah bersemangat, pada akhirnya ia akan dibuang atau diberikan kepada Bang Saprono satpam komplek yang tidak pulang mudik ke Jawa. Memikirkan apa yang ia alami selama beberapa tahun lebaran itu, maka ketupat menjadi sedih dan risau. Sendok pun kemudian mengatur kata-katanya sekali lagi untuk menanyakan apa yang perlu ia bantu untuk menghilangkan kesedihan dan kerisauan si Ketupat.
            “ Lalu Bung, apakah ada yang ingin kau lakukan di malam ini agar kau tidak bersedih lagi?” Tanya sendo untuk kesekian kali.
            “ Apakah kau mau membantuku sendok? ” Ketupat menoleh dan menatap sendok dengan wajah memelas.
            “ Hmm.., ya boleh saja Bung. Asalkan kau tidak menyuruhku untuk berendam dalam rendaman cucian di bak kotor. Sungguh itu akan membuat lapisan perakku berkarat dan mengelupas. ” Seru sendok sambil mengerlingkan matanya ke arah ketupat.
            “ Tidak sendok, aku tidak akan memintamu untuk melakukan itu.” Ketupat menyilangkan kedua suluran daun di atas kepalanya untuk meyakinkan sendok.
            Ketupat lalu meminta sendok untuk meminta tolong kepada tisu makan yang ada di meja sebelah supaya bersedia meminjamkan tisunya sebentar kepada ketupat, setelah itu ia meminta sendok untuk melompat ke dekat jendela dan mengikatkan salah asatu ujung tisu makan tadi ke badan sendok. Ketupat itu pun mengikatkan kedua suluran daun di atas kepalanya pada juntaian tisu yang mengarah ke sendok. Ia dengan sergap meluncurkan tubuhnya ke arah jendela. Sisa tisu yang menempel di tubuh sendok ia pergunakan sebagai tali untuk menuruni jendela, namun sebelum turun dari jendela ketupat menyampaikan rasa terima kasihnya kepada sendok dan tisu yang telah berbaik hati menolongnya. Ia juga meminta sepotong tisu untuk dibawa bersamanya guna berjaga-jaga barang kali setelah keluar dari rumah itu ia akan membutuhkan tisu untuk mengelap air mata bahagianya.
            “ Jadi ini Bung keinginanmu itu? Lari dari rumah?” Tanya sendok terkejut.
            “ Iya, aku ingin kabur dan mencari rumah lain yang mau menyentuhku.” Jawab ketupat.
            “ Sukses Bung!” Teriak tisu dari tempat ia digulung.
            Ketupat pun berbisik pelan kepada sendok dan bertanya, “ Hei, baru kali ini aku dengar ia berbicara. Aku kira dia...” Kata ketupat.
            “ Bisu maksudmu? Ah tidaklah, dia hanya tidak mau terlalu banyak bicara saja seperti suami pemilik rumah saat pemilu kemarin.” Jawab sendok lirih sambil berbisik kembali kepada ketupat.
            Ketupat pun melambaikan suluran daun di atas kepalanya kepada sendok, tisu makan, dan semua perabot serta makanan di seisi rumah. Impian ketupat nampak sudah begitu dekat, impian dimana akan ada orang yang membelahnya dengan pisau dan memakannya dengan sayur opor serta sambal goreng ati yang pedas. Ia sangat gembira, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ia telah turun di tempat yang salah. Ia turun tepat di atas kawanan semut yang telah baris berbaris seolah terlihat seperti para tentara yang sedang melatih fisik mereka. Jatuhlah ketupat di kerumunan semut, maka dengan sekejap tubuhnya yang gempal berisi nasi menjadi pusat perhatian koloni itu. Komandan semut langsung memerintahkan semut-semut pekerja untuk mengangkat badan gempal itu menuju sarang mereka, sementara semut-semut penjaga melindungi barisan semut pekerja dari serangga lain. Sendok yang mengamati dari pinggir jendela tersenyum bahagia, ia mengira bahwa Bung temannya tadi telah menemukan sesuatu yang bersedia untuk menyentuh dan memakan dirinya. Ketupat pun berpikiran sama dengan si Sendok, sebelum akhirnya ia tahu bahwa semut mencerna makanannya dengan pencapit-pencapit yang menyakitkan.
            Tubuh ketupat yang gempal dan kotak menyulitkan dirinya untuk bangun dari pikulan semut-semut pekerja. Ketupat pun tak berdaya dibawa semut-semut itu menuju sarangnya. Sesampainya di sarang, semut-semut pun langsung mengambil peralatan bedah mereka untuk mengeluarkan isi ketupat yang nampak lezat bagi mereka.
            “ Hai ketupat lebaran, sebentar lagi kau akan jadi santapan kami. Hahahaha...!” Seru Ratu semut.
            Mengetahui bahwa dirinya akan dibedah maka si Ketupat mendadak berubah menjadi takut. Capitan dan jarum suntik rasanya sangat menyakitkan bagi Ketupat, walaupun sebenarnya sudah lama ia ingin habis dimakan oleh seseorang.

Cerita Pendek Indonesia 1

EFEK LELAP



    “Can,”-aku meminum es jerukku-“srrrupptt...,glegeek!”
    “Kita..., udahan aja ya!” Aku memandang wajahnya ragu.
    “Uhuuukk!”-dia tersedak mie-“kamu ngomong apa sih Nik?” Dia menoleh ke arahku sambil membersihkan kawanan mie yang menggelepar di pipinya.
    Aku diam, membisu. Tak mengucap satu patah kata apapun. Bibirku gemetar, lidahku kelu untuk mengucap. Aku sudah berkali-kali melihat adegan seperti ini di televisi sampai aku hafal dialog yang harus diucapkan oleh si aktris wanita, namun di situasi seperti ini mengapa sekarang aku menjadi orang gagu? Oh tidak, tatapan mata lelaki ini terus menyerbuku. Diriku, diriku rasanya, ah sial perutku mengapa tiba-tiba seperti dibom atom? Please, jangan sekarang perut nakal. Saat ini adalah moment yang urgent dalam hidupku, ini menyangkut masa depan seseorang perut!
    “Nik, kamu bercanda kan?” Tangannya yang halus menggenggam jemariku yang lebih mirip kaki beruang.
    “Emm...,”jawabku bisu,”maaf Can, aku mau ke toilet!” Aku segera beranjak dari kursiku, aku melesatkan tubuh gempalku menuju toilet menembus antrian teman-temanku di counter Siomay Pak Ujang. “Gedebuk.., pyaarr!” Strike! Teman-temanku terlempar bersama piringan siomay.
    Aku masuk ke salah satu tempat tongkrongan di toilet, aku mengeluarkan semua yang sudah kupendam sejak tadi pagi sebelum bertemu Acan. Ya, se-mu-a-nya! Semua ledakan kepedihanku berpisah dengan orang yang aku sayangi dan semua hal yang meracuni perutku.
    “Ergh..eergh!”-terdengar bunyi aneh satu detik kemudian-“Uuwaaah! Huh, lega.” Suaraku mengguncang seisi toilet.
    “Hoh..., Acan maafkan Dedek Enik. Ini semua demi kebaikanmu! Hiks..,hiks!” Siswi yang berada di toilet tertegun mendengar suara tangisanku yang seperti cegukan kodok.
    Seketika langsung terlintas bayangan-bayangan buruk dari kenangan manisku selama bersama Acan. Mulai dari date pertamaku dengan dia, saat acara ulang tahunnya yang ke-17, dan terakhir saat hari anniversary kami ke-1 minggu lalu di Konser Ran.
    “ Nik, main ke sebelah sana yuk!” ajak Acan berpindah posisi ke mesin pengambil boneka.
    “Wuuaaa..! Mama ada monsteel!”seru seorang anak kecil di depanku sambil menunjuk-nunjuk wajahku dengan ekspresi ketakutan. Ibu dari bocah itu pun langsung memeluk anaknya bak aku ini kucing yang hendak menggondol anak ayam dari induknya. Parah! Ibu itu berteriak memanggil satpam.
“Maaf mas, mbak anda sudah mengganggu ketertiban dan keamanan di sini. Mari ikut saya ke pos.” Oh My God! Date pertama kami harus dihabiskan di pos keamanan Mall.
    Belum lagi dengan kejadian di acara ulang tahun Acan. “Uhuukk..uhuuukk!” Sebutir kacang keluar dari rongga mulutku, ia terlempar sejauh 30° dari tempatku berdiri. Bak di film action, kacang itu melesat secepat kilat memantul dan sampai akhirnya ia melakukan akrobat dengan adegan slow motion sebelum masuk ke mulut Acan saat acara tiup lilin. Alhasil, Acan segera dilarikan ke Pondok Pesakitan dan acara ulang tahunnya harus berakhir tragis. Hampir saja aku masuk koran karena menjadi tersangka pembunuhan pacarnya sendiri. Walaupun begitu, meski gagal dimuat di koran karena kasus penghilangan nyawa pacar, aku malah menjadi pemberitaan heboh di televisi. Bukan aku saja, malahan si Acan juga terseret dalam pemberitaan itu. Kejadian itu bermula saat kami merayakan hari jadi kami ke-1 dengan menonton konser Ran di salah satu Mall ternamaan. Sangat banyak orang berjejalan di konser itu, sampai akhirnya aku tidak sengaja menginjak kaki salah satu penonton yang lain.
 “Gajah bengkak kurap, punya mata kagak lu?!” umpat penonton itu kepadaku.
Acan yang mendengar hal itu, kemudian tanpa ba-bi-bu langsung menghajar penonton yang mengumpatiku. Aw, sayang sekali Acan kalah postur dengannya. Bogem mentah pacar kesayanganku tak mempan pada penonton itu. Ia malah balas menghajar Acan habis-habisan, penonton lain yang melihat perkelahian itu bukannya melerai malah ikut-ikutan adu bogem. Akhirnya konser rusuh, penonton dibubarkan panitia. Aku dan Acan langsung jadi headline news di seluruh stasiun televisi. Sial!.
   
   
    “Uwwaaa!!” Aku menjerit ada yang mencolekku di dalam toilet.
    “SETAAN?!” pikirku tak ada orang lain yang berada satu bilik toilet bersamaku.
    “Bukan, ini bapaknya setan!”sahut sebuah suara kepadaku.
    “Haaah?” Aku menoleh ke belakang.
    “Masya...Allah! Ayah!” Aku terkejut.
    “Kamu lagi ngapain sih bengong aja dari tadi? Tehnya udah dibikin belum? Tamunya udah mau dateng loh!” kata Ayahku memeriksa persiapan logistik untuk pertemuan penting siang ini.
    “Be..belum Yah. Ini mau Murni bikin sekarang,”sambungku seraya segera berdiri dari kursi reyot yang dari tadi sudah berteriak mengeluh kesakitan karena kududuki.
    “Ya udah, Ayah ke depan dulu, mau nungguin tamu. Kamu jangan lupa siapin teh sama makanannya ya!” Ayahku memalingkan badan sambil membetulkan posisi sarungnya yang miring.
    “Iya Yah!” sahutku sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat gaya Ayah membetulkan sarung.
    Back to the real! Alamak, mengapa aku jadi sering melamun seperti ini ya? Bayangan Acan semakin menempel kuat ke pikiranku. Mungkin ada minion-minion yang menggelar launching film pendek berjudul “Antara Aku dan Acan” di kepalaku, atau bahkan bisa jadi ada minion yang iseng masuk ke kepalaku membawa toa masjid dan berteriak mengggangguku dengan kata ‘Acan is my honey’. Sungguh sadis si Makhluk Kecil Kuning itu kepada diriku.
    Syndrome kangen Acan sebenarnya sudah lama aku idap semenjak aku putus dengannya. Menyesal dan sedih memang, tapi nasi sudah menjadi bubur dan buburnya telah habis aku makan. Keputusan putus dengan Acan saat itu aku ambil setelah aku berkonsultasi dengan dokter psikologis online di salah satu web internet terkenal. Aku putus dengan Acan bukanlah karena aku tidak suka lagi dengannya atau ada orang ketiga, keempat, atau kelima. Bukan karena itu, tetapi ini semua demi masa depan Acan. Demi keselamatan Acan.
Jika aku, bukan jalanmu
Ku berhenti mengharapkanmu
Jika aku memang tercipta untukmu
Ku kan memilikimu, jodoh pasti bertemu.

Tiba- tiba tetangga sebelah menyetel lagu Afgan sangat kencang hingga membuat telingaku gatal. “Sial si Cemong nyetel lagu Afgan lagi, galau deh!”gerutuku sambil mengaduk teh tuah dari Bung Prapto, Ayahku. Aku kemudian meneruskan pekerjaanku sambil menggerakkan badanku ke kiri dan ke kanan mengikuti alunan lagu Afgan, dari belakang aku tampak mirip dengan ikan pesut yang kurang air.
   

        “Breem..,breeem!” Suara mobil berhenti di depan rumah.
        “Tiing...Gedubraak...Pyaar!” Aku tidak sengaja menjatuhkan gelas kosong di sampingku.
        “Itu...,tamunya ya?”batinku dalam hati resah.
Minion-minion yang mendoktrin kepalaku kemudian berbisik jahat kepadaku. “Orang macam apa yang mau dikenalkan denganku?” kataku dalam hati. Aku kemudian berimajinasi, membayangkan bentuk makhluk yang digadang-gadang Ayah menjadi calonku. “Kata Ayah dia ganteng, tapi Ayah juga selalu bilang aku cantik? Emm.., seberapa putus asakah dia hingga mau saja dijodohkan Ayah denganku?” Aku penasaran.
          Ayah memang bapak yang baik bagiku, tapi bukan orang yang tepat untuk dikenal oleh laki-laki lajang . Alasannya karena setiap laki-laki lajang yang menurutnya kece pasti Ayah masukkan ke dalam list daftar calon menantu. Entah sudah berapa banyak lelaki yang menjadi korban dan trauma karena keinginan Ayah untuk menjodohkan mereka denganku. Untung saja, Ayah waktu itu menang di pengadilan atas tuduhan percobaan pembunuhan karena suatu hari laki-laki yang Ayah bawa ke rumah tiba-tiba saja terkena serangan jantung dan hampir tewas karena shock melihat wujudku. Tragis memang dunia percintaanku, tetapi kata Ayah tamu ini adalah lelaki yang terakhir.
          “Murni..., tolong makanan dan minumannya dibawa ke depan!” Ayahku memanggil.
          “Iya Yah!” Aku segera menata gelas-gelas dan toples kue di atas nampan dan merapikan pakaianku sebelum keluar.
          “Wuuussshh!” Angin menggerai rambutku saat aku tiba di ruang tamu. Tamu laki-laki muda itu nampak terpesona padaku. Mulutnya melongo dan pipiku pun memerah. Ayah yang melihat wajah tamunya mirip ikan cupang hanya ikut-ikutan terkekeh, ”We..eeee!”. Tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat laki-laki ini. Wajahnya familiar bagiku.
          “Aaah! Doktrin minion!” Nampan yang kubawa merosot, meluncur ke arah sarung Ayah. Air teh panas terjun bebas ke pangkuan Ayah.
          “HUWAARGH..!” teriak Ayah heboh.
Aku terbangun dari tempat tidurku. “Ayah berisiiik!”

Cerita Pendek Indonesia 4

C-Syndrome


   “Uwiingg...uwiingg...uwiingg!” Suara sirine ambulan menderau meraung-raung
   “Gledek..gledek..gledek!” Sebuah tempat tidur berjalan meluncur dari ambulan diiringi empat orang suster.
    Seorang pasien melesat cepat ke sebuah ruangan dengan peralatan medis yang tersusun rapi di setiap sudut ruang. Peralatan itu tersambung dengan banyak kabel yang menjuntai dan berwarna-warni. Sesaat setelah pasien itu datang ke kamar, pakaiannya langsung dilepaskan oleh keempat suster yang mengawalnya sedari tadi. Persis, bak gula dikerumuni semut. Andai ia dalam keaadaan sadar, tentunya ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidupnya. Sayangnya, sudah satu jam lebih dirinya mendadak kehilangan ritme bernapas.
    Pintu ruangan ditutup, lampu merah di atas pintu menyala terang menandakan ada pertolongan darurat di dalam ruangan itu. Suster-suster cantik berbaju putih berganti kostum memakai baju terusan berwarna hijau dengan tali-tali yang menjulur di bagian punggung. Wajah cantik dan tangan halus mereka sementara dibungkus dengan penutup untuk sterilisasi. Alat-alat medis yang sebelumnya tergolek tak bernyawa, kini mereka memiliki kehidupan kembali. Seorang dokter kemudian muncul dari balik bilik setelah mempersiapkan alat cukup lama. Kini, lampu operasi dinyalakan. Byaar!
    “Dokter, pasien tiba-tiba mengalami serangan sedakan dan tidak berselang lama napas pasien tersengal-sengal tidak teratur, kemudian pasien mendadak jatuh dan tidak sadarkan diri hingga sekarang!” kata salah seorang suster memberikan keterangan kepada dokter untuk didiagnosis.
    “Cek tekanan darah dan denyut jantung!” sahut dokter seraya memegangi tubuh pasien.
    “Baik dok!” Seorang suster yang lain nampak ikut membantu pengecekan dengan memasangkan panel-panel kabel ke tubuh pasien.
 Dokter dingin itu mencermati hasil pemeriksaan dengan sangat teliti. Ia menyerngitkan dahinya sebentar kemudian berkata, “C-syndrome!” Seluruh suster yang berada di ruangan itu langsung terhenyak.
     Empat tahun sudah, negara terserang wabah C-syndrome. Para ahli medis dan ilmuwan sudah bekerja keras demi menemukan obat untuk syndrome ini. Gejalanya datang begitu saja dan sangat sulit diidentifikasi secara dini. Tingkat bahaya C-Syndrome bagi penderita dikategorikan dalam empat stadium, yaitu stadium 1, stadium 2, stadium 3, dan stadium 4 yang sudah sangat mematikan bagi penderita. Dewasa ini, salah seorang ahli syaraf telah menemukan fakta baru yang mencengangkan mengenai C-syndrome. Ia mengemukakan bahwa syndrome ini sebenarnya berasal dari kesalahan neuron dalam otak untuk berpikir jernih sehingga memicu rangsangan untuk berperilaku menyimpang dan selalu merasa tidak pernah puas. C-syndrome cenderung berpotensi menyerang orang-orang yang mengalami gangguan jiwa atau biasa disebut sebagai penyaki ‘gila’. Ya, kegilaan itu dapat berupa kegilaan terhadap harta, tahta, ataupun  pasangan pada umumnya.
Pada beberapa kasus ditemukan bahwa penderita akan mendapatkan serangan yang paling berbahaya untuk stadium 4. Serangan ini timbul saat penderita mengalami peningkatan produksi hormon adrenalin yang disebabkan oleh adanya tekanan emosi terhadap hadirnya bentuk penolakan lingkungan akan perilaku menyimpang yang telah dilakukan oleh penderita. Salah satu tokoh negara yang sempat menghebohkan pemberitaan dengan C-syndrome adalah Priyo Budiman, salah satu petinggi di instansi pembela keamanan dan ketertiban negara. Ia mendapatkan serangan sedakan yang langsung merampas ritme pernapasannya sesaat setelah menerima surat perintah penahanan akibat dari kasus korupsinya dalam pengadaan alat akumulator untuk kegiatan penghitungan jumlah kendaraan bermotor di jalan raya setiap hari. Kasus inilah yang membuat publik sering mengaitkan makna C-syndrome sebagai Corruption Syndrome.
     “Dokter..,” Seorang suster terlihat sedang membisikkan sesuatu kepada sang Dokter.
Dokter kemudian melihat wajah pasien dengan seksama lagi. Dirinya baru sadar wajah pasien yang ia lihat merupakan wajah dari seorang pejabat tinggi negara dan seorang  pemimpin partai yang ikut terlibat dalam kasus korupsi impor pangan senilai 2M akhir-akhir ini.
      “Siapkan eksekusi!” Dokter dingin itu menyeringai dan tersenyum agak gembira.
      “Dok, kita belum mendapat persetujuan keluarga pasien!” Salah suster yang sedari tadi berdiri gemetar berusaha mencegah tindakan yang akan diambil dokter.
Dokter itu menatap tajam suster di sampingnya. “Di sini siapa dokternya? Aku..., atau kau!”
Keempat suster itu segera mengambil posisi masing-masing. Kedua orang suster berusaha mempersiapkan alat bedah, satu orang lainnya memeriksa detak jantung dan infus pasien, dan seorang lagi sibuk mengelapi keringat dokter yang terus menetes keluar.
       “Piip...piip...piiip.” Hening, hanya terdengar suara detak jantung dari kardiograf.
       “Kress..kreess...kresss!” Gunting tanpa ampun membelah tubuh pasien, tepat di bagian perut.
Perut buncit pejabat itu pun terbelah. Sungguh menjijikkan, isi perut dipenuhi oleh nanah yang membusuk. “Makanan haram apa yang kau makan ini? Menjijikkan, busuk!” ucap dokter sambil terus memperlebar belahan perut pasien.
Dokter kemudian memasukkan tangannya ke dalam lubang besar yang berhasil ia buat. Ia nampak sedang berusaha mencari celah di antara organ-organ perut yang sudah mulai membusuk, menemukan sebuah celah kosong yang cukup luas. Tangannya beberapa kali sempat berhenti beberapa untuk mencabut gumpalan-gumpalan daging dan organ pasien yang masih utuh. Lantai ruang terbanjiri oleh darah yang tidak mau berhenti mengucur dari dalam perut pasien. Salah seorang suster yang bertugas memeriksa denyut jantung dan infus semakin sibuk mengganti kantong-kantong darah untuk pasien. “Dok, ini kantong darah yang terakhir. Kita sudah kehabisan stock!” kata suster gelisah.
     “Haahahaha! Bagus, bagus, kerja bagus!” Dokter itu tertawa terbahak-bahak, ia terlihat sangat gembira mendengar ucapan suster tadi.
     “Dok, detak jantung pasien juga semakin melemah. Tekanan darah turun drastis. Bagaimana ini Dok?” Suster lain yang memantau alat kardiograf turut gelisah.
     “Plook...ploook...ploook!” Sang Dokter bertepuk tangan.
Hening. Semua mata saling beradu. Suara bip semakin melemah, melemah, dan akhirnya....”Tiiiiit” bunyi sirine panjang memecahkan kesunyian.
     “Hahahahaha...hahaha...hahaha!” Semua orang di dalam ruangan kini kompak tertawa bersama, mereka tampak menikmatinya.
      Seorang suster yang sedari tadi mengelapi keringat sang Dokter kemudian memeras seluruh keringat yang terkumpul ke dalam perut kosong bernanah. Rona wajah suster itu nampak bertambah riang. Ia kemudian mengambil suatu benda yang tergeletak di bawah ranjang. Kotak kecil penuh kabel terjulur dengan tiga warna; merah, kuning, dan biru. Benda itu lalu ia serahkan kepada dokter dingin di sampingya. Sang Dokter segera meletakkan benda itu ke dalam isi perut pasien, kemudian ia mengambil sebuah jarum berserat dari dalam baskom. Ia menjahit perut pasien dengan sangat cepat, sampai-sampai ia melupakan untuk mengembalikan bentuk perut itu kembali buncit seperti semula.
      “Dok, ini pemicunya.” Sebuah kotak yang berukuran lebih kecil dengan sebuah tombol berpindah tangan ke tangan penuh lumuran darah.
      “Ayo kita segera pergi!” seru sang Dokter kepada keempat suster asistennya.
Dokter membuka pintu ruang operasi, tangannya yang berlumuran darah mengagetkan seluruh pengunjung rumah sakit. Beberapa satpam sempat menghentikan dirinya dan keempat suster itu, namun ia membanting mereka dengan mudah. Kericuhan semakin riuh terdengar. Anak-anak yang datang untuk berobat menjerit ketakutan, sedangkan para lansia tak sadar membuang urinnya di depan umum.
      “Piip...piiip....piip!” Suara detak jantung terdengar kembali dari alat kardiograf yang masih terpasang pada diri pasien yang sudah tak berdaya.
      Pasien itu membuka mata perlahan dengan sisa tenaga yang ia miliki. Napasnya masih tersengal. Ia melihat dirinya sudah telanjang dengan kabel-kabel tersulur ke alat-alat yang asing baginya. Lumuran darah mewarnai hampir seluruh helai selimut yang menjadi satu-satunya penutup bagi auratnya kini. Sepertinya baru saja ia pingsan di rumah setelah membaca surat penangkapan dirinya oleh KKP, lalu tiba-tiba ia merasakan sakit yang begitu dashyat, dan “bruuk!”. Ia mengamati perutnya, oh sungguh mengerikan. Sontak ia berusaha bangun dari tempat tidurnya dan tanpa sengaja menjatuhkan sebuah baskom di sampingnya. Ia melihat sesuatu jatuh dari dalam baskom, ternyata itu adalah organ ginjal dan separuh hatinya jatuh.
       Pasien itu berteriak kesakitan. “Aaw! Dokter tolong!” Ia lemah tak berdaya. Ekspresi wajahnya seketika berubah saat melihat angka-angka berganti seiring detikan jarum jam. Ia segera melepaskan benda itu, namun jahitan perutnya malah ikut terlepas juga. Darahnya kembali mengucur deras membanjiri sprei dimana ia berbaring. Ia coba mencari pertolongan, namun ia terguling ke bawah. Ia merayap keluar sambil menyumbat darah yang terus keluar dari perutnya.
       “Toloong!” Ia berteriak di tengah kegaduhan di luar kamar operasi.
       “Tik...tik...tik...tik,tik,titk,tik,tik,tiktitik...!” Suara hitungan angka semakin cepat.
       “DDHWWEEEER!” Ledakan yang sangat keras.
       “Pleeek!” Potongan tubuh berceceran dimana-mana.

Untuk Anak Arborek

Kunjungi Official Page Kami Kawan! https://www.facebook.com/KKNPPM.Arborek.Rajaampat2014?fref=ts

Kutulis Sebelum Lupa Episode Gank Swakarya

           Perjalananku... entah harus dimulai darimana aku bercerita. Oh aku awali dengan ceritaku di masa aku kecil dimana aku tumbuh dengan sangat gembira. Cerita ini terjadi 16 tahun yang lalu, kira-kira umurku saat itu 5 tahun. Yaa sudah lama sekali. Masa kecilku saat itu banyak aku habiskan di Swakarya di rumah nenekku. Banyak cerita seru yang aku alami di sana. Jiwa petualangku pun rasanya berawal dari sana. Aku memiliki 2 sahabat laki-laki, nama mereka adalah Ayek dan Adil, dan tentunya satu orang musuh bebuyutan namanya Yoga. Aku tidak ingat bagaimana aku bisa mengenal kedua sahabatku itu, yang aku tahu mereka salah satu sahabat terbaik dalam hidupku. Aku masih ingat saat aku dan mereka berpetualang di sekitar komplek tempat tinggal nenekku. Oh ya, di Swakarya aku selalu berpetualang bersama kakak laki-lakiku, namanya Restu Setyawan Putra, biasanya sih dipanggil Restu atau Puput. Aku lanjutkan ya ceritaku. Nah masa kecilku saat aku berumur 5 tahunan bagiku adalah best moment, karena masa itu sangat membahagiakan. Mmm, sampai di mana ya tadi? Oh ya, saat aku kecil aku sangat takut loh dengan orang kulit hitam karena mereka terlihat menyeramkan, walaupun hari ini kulitku juga htam sih hehehe. Nah aku pernah waktu sedang bermain bersama komplotan gank Swakaryaku, aku menabrak seorang Mas-mas kulit hitam yang ngontrak di tempat Ayek. Huh, aku takut luar biasa. Eh tapi ternyata aku yang udah "mimbik-mimbik" waktu itu malah ditraktir jajan snack sama susu. Mulai saat itu ketakutanku terhadap orang kulit hitam lenyaplah sudah. Moment lain yang menurutku paling berkesan adalah saat aku bermain di gorong-gorong dekat pos ronda komplek, gorong-gorong itu dulu bagiku keliatan panjang sekali dan mengerikan. Eh ternyata setelah beberapa hari lalu aku sempatkan main ke sana ternyata gorong-gorongnya pendek dan badanku sudah tidak muat rupanya hahaha...Aku lanjut ya. Moment selanjutnya adalah saat main petasan bersama kakak dan sahabat-sahabatku di sana. Kelucuan itu bermula saat kami iseng sok berani menyalakan petasan kupu-kupu, salah-salah malah petasan itu menyerang kami berempat eh berlima, sepertinya ada tambahan anak cowok lagi tapi aku lupa nama mereka. Petasan itu akhirnya meledak di dekat tempat terempuk dari si Adil yaitu pantatnya si Adil, haha lucu banget deh pokoknya. Pokoknya waktu kecil aku badung banget karena lebih banyak main dengan anak-anak cowok daripada anak perempuan. Makanya waktu kecil aku kayak jadi Ibu Bos dari Gank Swakarya, dulu aku pernah direbutin oleh dua gank loh. Yap Gank anak cewek sama Genk Badung (Genk ku).
               Oh iya aku belum ngenalin siapa Adil, Ayek, sama aku lebih dalam ya? Namaku Stella Swastika Putri, orang-orang lebih sering memanggilku Ela. lucu kan? Aku anak kedua dari dua bersaudara. Kakakku tadi namanya Restu Setyawan Putra, dan nama panggilannya sudah aku jelaskan di tulisanku sebelumnya. Aku dan kakakku beda usia 2,5 tahun. Aku lahir di Sleman dan besar di Sleman hingga sekarang. Ayahku dulu bekerja sebagai karyawan Hotel Sheraton Ambarukmo dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Kami sekeluarga sebenarnya tinggal di Desa Cebongan, Tlogoadi, Mlati, Sleman. Jaraknya sekitar 12 km dari rumah nenekku di Swakarya dekat Bulaksumur. Setiap beberapa hari sekali aku sekeluarga pasti menyempatkan main ke rumah nenek, boleh dibilang hampir setiap hari. Aku selalu senang ketika bermain di rumah nenek karena di sana ada Paman, Bibi, dan Keponakan yang lucu, serta mbak-mbak kos yang selalu ramah padaku dan selalu bilang kalau aku lucu dan menggemaskan hihihi. Nah mungkin karena aku sering main ke rumah nenek makanya aku jadi kenal dengan Adil dan Ayek. Adil sendiri anak tunggal, rumahnya persis di depan rumah nenekku dan sebelahan dengan rumah Ayek. Bisa dibilang kalau Adil itu yang paing borju dari kami berempat. Ayahnya aku tidak tahu bekerja sebagai apa, tapi ibunya selalu di rumah karena beliau seorang ibu rumah tangga. Rumah Adil sangat besar dan mewah. Rumahnya bertingkat dua lantai dan tempat kesukaan kami saat bermain di rumah Adil adalah dapur, ruang tamu, dan tentunya kolam ikan. Dapur, alasannya karena pasti kami boleh mengambil makanan sepuasnya. Kemudian ruang tamu karena kami sering bermain petak umpet di ruangan itu. Walaupun sebenarnya aku takut dengan guci-guci besar di ruangan yang gampang kesenggol dan pecah. Nah kalau kolam ikan, alasannya kami bisa berenang di sana kalau lagi nggak ada ikannya. Ibu Adil menurutku ibu yang ramah dan baik hati. Ibu Adil selalu baik kepadaku, mungkin karena beliau sebenarnya ingin sekali memiliki seorang anak perempuan. Tidak jarang aku sering dibelikan barang-barang oleh ibunya adil. Ahh, menulis kenangan ini aku jadi ingat banyak hal. Adil sendiri orangnya menurutku anak yang baik dan kalem, walaupun kadang agak kolokan dan manja karena dia anak tunggal. Dibandingkan Ayek, Adillah yang lebih dekat denganku. Dia juga yang paling sering bagi-bagi makanan hehehe. Kemudian Ayek, dia adalah anak ke 3 dari 4 bersaudara. Nah aku sendiri sampai sekarang masih bingung nama kakak dan adiknya Ayek karena namanya mirip-mirip. Mulai dari Ayik, Ayuk, dan apalah itu aku nggak hafal. Kakak pertama Ayek laki-laki, kedua perempuan, dan adiknya laki-laki. Bagiku Ayek bersaudara itu sangat energik dan pintar-pintar. Terbukti dari kacamata yang mereka pakai (kecuali Ayek). Ayah Ayek aku dengar seorang dokter, dan ibunya sepertinya wanita karir. Di depan rumah Ayek ada tanaman talok-talokan dan talok sungguhan yang sering kami berempat jadikan target pemanjatan. Setiap sore biasanya ada abang-abang siomay dan putu mampir jualan di situ, dan kami berempat hobi melariskan dagangan mereka hehehe.    
            Oh ya si Yoga itu, aku kurang ingat dengan dia. Hal yang aku ingat dari dia adalah dia suka bikin onar dan agak jahat denganku, tapi aku selalu minta maaf dengan dia walaupun aku idak bersalah. Pikirku untuk meluluhkan hatinya yang keras haha (baru umur 5 tahun tapi kok aku udah tua ya pemikirannya ya? hehehe). Sayangnya, perpisahan harus memisahkan kami. Karena harus menjalani berbagai pengobatan, rumah nenek di Swakarya harus dijual dan nenek pindah ke Sedan, Monjali. Saat itu aku ingat bahwa aku sudah kelas 1 SD. Sedih rasanya meninggalkan rumah nenek di Swakarya. Kesedihan itu semakin melanda hatiku karena aku yang masih kecil tidak bisa sring-sering lagi main ke Swakarya dengan 2 sahabatku. Saat aku sudah bisa menulis dan membaca, sempat aku menulis surat untuk mereka. Di surat itu aku hanya menulis "Apa kabar kalian? Semoga kalian baik-baik saja. Aku sayang kalian." Aku menunggu balasan dari mereka, namun ternyata balasan surat itu tak kunjung datang. Beberapa bulan setelah aku mengirim surat, baru aku tahu mereka sudah membaca surat dariku. Aku tak mengharapkan balasan dari Ayek karena memang dia belum bisa menulis surat dan kurang peka untuk membalas surat. Dari Ibu Adil aku tahu bahwa sebenarnya Adil malu menulis surat balasan untukku, namun sebenarnya Ibunya melihat suatu kerinduan yang besar kepadaku. Ya sudahlah namanya anak-anak (loh padahal aku juga anak-anak ya haha). Untuk Ayek dan Adil, saat ini aku ingin mengetahui kabar kalian, apakah kalian sehat-sehat saja? Apa kalian juga masih ingat padaku? Di sini aku selalu mengingat kalian. Adil, aku dengar kamu sudah lulus dari STT Telkom di Bandung, dan kabar orang tuamu juga baik-baik saja. Ayek, aku sudah pernah bertemu kakak laki-lakimu di rumah. Dia sangat tampan dan mukanya mungkin mirip kamu ya. Aku juga sudah tahu kalau dia sudah menikah. Walau aku tidak bisa mengingat semua masa-masa kecil kita, tapi aku tahu kita memang sahabat. Jika Allah mengizinkan, aku harap kita suatu saat dapat bertemu lagi dan saling mengenal satu sama lain. Terima kasih sahabat :)